Sabtu, 14 April 2012

MENULIS ARTIKEL ILMIAH POPULER Oleh abdul rosid


A.     MENULIS dan MENGARANG
Terdapat suatu pandangan tradisional yang menyebutkan bahwa menulis dan mengarang adalah dua kegiatan yang berbeda, meski sama-sama berkenaan dengan aspek kebahasaan. Kegiatan menulis sering diasosiasikan dengan ilmu yang sifatnya faktual, sedangkan kegiatan mengarang selalu diasosiasikan dengan karya sastra yang fiksional (Kamandobat 2007). Menjejak pada asumsi di atas, maka dengan kata lain dapat dikatakan, kegiatan menulis mutlak membutuhkan studi ilmiah, sedangkan kegiatan mengarang tidak.
Pandangan tersebut tentu tidak benar. Kita tentu ingat novel "The da Vinci Code" yang karangan Dan Brown yang menggemparkan itu. Lalu kita juga mungkin masih ingat "The Origin of Species" karya Charles Darwin. Keduanya berasal dari ranah yang berbeda, namun masing-masing disajikan dengan bahasa yang terkesan ilmiah dan literer. Akan tetapi, ada satu hal yang membedakan keduanya. Hal itu adalah dalam hal penekanannya. Meskipun sebuah karya tulis disajikan dengan bahasa literer, bila penekanannya menjurus ke bidang keilmuan—termasuk ilmu sastra—kita dapat mengelompokkannya ke dalam kegiatan menulis. Demikian sebaliknya, kegiatan menghasilkan karya tulis yang lebih bernuansa fiktif, meski terkesan faktual, bisa disebut sebagai kegiatan mengarang.

Apa itu Artikel?
Ada sejumlah pengertian mengenai artikel. Berikut beberapa di antaranya.
Artikel merupakan karya tulis lengkap, misalnya laporan berita atau esai di majalah, surat kabar, dan sebagainya (KBBI 2002: 66). Ada juga pengertian lainnya, yakni artikel adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa, yang membahas isu tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang dalam masyarakat secara lugas (Tartono 2005: 84).
Berdasar pengertian di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa artikel adalah: (1) karya tulis atau karangan, (2) karangan nonfiksi, (3) karangan yang tak tentu panjangnya, (4) karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur, (5) sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dan sebagainya, dan (6) wujud karangan berupa berita atau "karangan khas" (Pranata 2002: 120).
Sekali lagi, di berbagai suratkabar atau majalah, selain terdapat berita, biasanya terdapat juga artikel/tulisan ilmiah populer. Apakah yang dimaksud dengan "ilmiah" itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Kedua, 1996), ilmiah berarti bersifat ilmu; secara ilmu pengetahuan; memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan. Adapun yang dimaksud dengan ilmu sendiri adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Sedangkan yang dimaksud dengan ilmiah populer adalah menggunakan bahasa umum, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Penulisan ilmiah dengan demikian terbagi dua: penulisan ilmiah (biasa) dan penulisan ilmiah populer. Apa perbedaan antara keduanya?
Penulisan ilmiah: Biasanya ditujukan pada khalayak pembaca yang terbatas dalam bidang keilmuan tertentu. Oleh karena sifatnya yang agak eksklusif, ia bebas saja menggunakan jargon atau istilah yang khas di bidang keilmuan tersebut, dengan asumsi bahwa khalayak pembacanya pasti sudah mengetahui makna, tanpa harus dijelaskan lebih lanjut. Sebagai contoh, seorang mahasiswa fakultas ekonomi, yang diperintahkan dosennya untuk membuat makalah guna dipresentasikan di depan kelas, tentu akan menulis makalah ilmiah tersebut dengan memakai kosa kata/istilah yang lazim digunakan dalam ilmu ekonomi. Tulisan-tulisan untuk dimuat di jurnal sosiologi, jurnal kimia, atau majalah kedokteran, tentu harus menggunakan teknik penulisan ini.
Penulisan ilmiah populer: Biasanya ditujukan pada khalayak pembaca umum, dengan latar belakang tingkat pengetahuan dan keilmuan yang beragam. Oleh karena itu, si penulis sejauh mungkin menghindari istilah-istilah yang terlalu teknis atau khas dalam bidang keilmuan tertentu, yang kemungkinan besar tidak akan dipahami oleh orang lain di luar bidang ilmu tersebut. Misalnya, orang yang mengirim artikel untuk dimuat di suratkabar, jelas akan menulis dengan gaya ilmiah populer.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara tulisan ilmiah dan tulisan ilmiah populer hanyalah dalam cara penyampaian dan gaya/teknik penulisan. Dari segi isi, keduanya sama ilmiahnya. Namun demi disebut "ilmiah", tidaklah berarti suatu tulisan harus dibuat rumit, penuh istilah teknis, dan membuat kening pembaca berkerut.

B.      BEBERAPA PEDOMAN PENULISAN
Beberapa pedoman dalam penulisan ilmiah populer, antara lain:
1.      Tulisan ilmiah populer pada dasarnya terikat pada "hukum" yang sama seperti tulisan-tulisan lain di media massa. Misalnya, sedapat mungkin judul harus menarik. Begitu juga lead (alinea pertama dalam sebuah tulisan). Lead ini berfungsi sebagai "kail" yang memancing calon pembaca untuk membaca sebuah tulisan. Bila judul dan lead sudah tidak menarik, tulisan ini bisa dibilang gagal, karena tidak ada yang tertarik untuk membacanya.
2.      Bahasa penulisan ilmiah populer harus mengalir, runtun. Yakni, supaya jelas masalah yang dikemukakan, serta jelas pula argumen yang dipaparkan dalam memandang dan menempatkan masalah tersebut. Dalam hal yang menyangkut teknologi, jelas pula solusi yang diajukan, karena tujuan teknologi adalah memecahkan masalah tertentu.
3.      Tulisan ilmiah populer tidah usah berpretensi untuk memecahkan semua masalah secara tuntas (Terlebih jika mengacu pada sebuah asumsi bahwa tidak pernah ada masalah di dunia ini yang pernah diselesaikan secara "tuntas"?). Karena solusi terhadap suatu masalah akan menjadi masalah baru, yang menuntut solusi baru. Solusi baru itu pada gilirannya akan menjadi masalah berikutnya, yang menuntut solusi lain lagi, dan begitulah seterusnya dialektikanya. Contoh: untuk mengatasi problem jarak jauh, orang membuat mobil agar bisa menempuh jarak itu dengan lebih cepat. Namun banyaknya mobil kemudian menimbulkan masalah polusi asap. Untuk mengatasi polusi, orang lalu menciptakan mobil tenaga listrik, dan seterusnya.
4.      Tulisan ilmiah populer juga harus memperhatikan "ekonomi kata", seperti juga bentuk tulisan lain di media massa. Karena keterbatasan ruang di media cetak (ruang/halaman bisa dipakai untuk iklan, yang berarti pemasukan uang), gaya bahasa yang bertele-tele dan berpanjang-panjang harus dihindari. Gaya bahasa sedapat mungkin ringkas, jelas, dan sederhana.
5.      Untuk mempermudah pembaca memahaminya, tulisan ilmiah juga bisa dilengkapi dengan tabel atau gambar. Karena beberapa hal memang lebih mudah dijelaskan dengan gambar ketimbang uraian yang berpanjang-panjang. Orang bilang, sebuah gambar lebih berarti dari seribu kata.
6.      Harus disadari bahwa pemahaman si penulis tentang materi yang ditulisnya mungkin tidak sama dengan si pembaca. Pembaca mungkin tidak bisa membayangkan uraian si penulis tanpa tambahan ilustrasi. Bila disebutkan kecepatan sebuah pesawat tempur jet mencapai dua kali kecepatan suara (Mach 2), mungkin baik juga dijelaskan bahwa kecepatan suara adalah 300 meter/detik. Artinya, pesawat tempur itu bisa mencapai jarak 600 meter --sekitar lima kali panjang lapangan sepakbola-- dalam waktu sedetik.

C.      TAHAPAN MENULIS ILMIAH POPULER
Menguji Gagasan
Prinsip paling dasar dari melakukan kegiatan menulis ialah menentukan atau memastikan topik atau gagasan apa yang hendak dibahas. Ketika sudah menentukan gagasan tersebut, kita bisa melakukan sejumlah pengujian. Pengujian ini terdiri dari lima tahap sebagai berikut (Georgina dalam Pranata 2002: 124; bandingkan dengan Nadeak 1989: 44), yakni:
·   Apakah gagasan itu penting bagi sejumlah besar orang?
·   Dapatkah gagasan ini disempitkan sehingga memunyai fokus yang tajam?
·   Apakah gagasan itu terikat waktu?
·   Apakah gagasan itu segar dan memiliki pendekatan yang unik?
·   Apakah gagasan Anda akan lolos dari saringan penerbit?

Pola Penggarapan Artikel
Ketika hendak menghadirkan artikel, kita tidak hanya diperhadapkan pada satu kemungkinan. Soeseno (1982: 16-17) memaparkan setidaknya lima pola yang bisa kita gunakan untuk menyajikan artikel tersebut. Kelima pola yang dimaksudkan adalah:
1.      Pola pemecahan topik. Pola ini memecah topik yang masih berada dalam lingkup pembicaraan yang ditemakan menjadi subtopik atau bagian-bagian yang lebih kecil dan sempit kemudian menganalisis masing-masing.
2.      Pola masalah dan pemecahannya. Pola ini lebih dahulu mengemukakan masalah (bisa lebih dari satu) yang masih berada dalam lingkup pokok bahasan yang ditemakan dengan jelas. Kemudian menganalisa pemecahan masalah yang dikemukakan oleh para ahli di bidang keilmuan yang bersangkutan.
3.      Pola kronologi. Pola ini menggarap topik menurut urut-urutan peristiwa yang terjadi.
4.      Pola pendapat dan alasan pemikiran. Pola ini baru dipakai bila penulis yang bersangkutan hendak mengemukakan pendapatnya sendiri tentang topik yang digarapnya, lalu menunjukkan alasan pemikiran yang mendorong ke arah pernyataan pendapat itu.
5.      Pola pembandingan. Pola ini membandingkan dua aspek atau lebih dari suatu topik dan menunjukkan persamaan dan perbedaannya. Inilah pola dasar yang paling sering dipakai untuk menyusun tulisan.
Kelima pola penggarapan artikel di atas dapat dikombinasikan satu dengan yang lain sejauh dibutuhkan untuk menghadirkan sebuah tulisan yang kaya.

Menulis Bagian Pendahuluan
Untuk bagian pendahuluan, setidaknya ada tujuh macam bentuk pendahuluan yang bisa digunakan (Soeseno 1982: 42). Salah satu dari ketujuh bentuk pendahuluan berikut ini dapat kita jadikan alternatif untuk mengawali penulisan artikel kita.
·   Ringkasan. Pendahuluan berbentuk ringkasan ini nyata-nyata mengemukakan pokok isi tulisan secara garis besar.
·   Pernyataan yang menonjol. Terkadang disebut juga sebagai "pendahuluan kejutan", diikuti kalimat kekaguman untuk membuat pembaca terpesona.
·   Pelukisan. Pendahuluan yang melukiskan suatu fakta, kejadian, atau hal untuk menggugah pembaca karena mengajak mereka membayangkan bersama penulis apa-apa yang hendak disajikan dalam artikel itu nantinya.
·   Anekdot. Pembukaan jenis ini sering menawan karena memberi selingan kepada nonfiksi, seolah-olah menjadi fiksi.
·   Pertanyaan. Pendahuluan ini merangsang keingintahuan sehingga dianggap sebagai pendahuluan yang bagus.
·   Kutipan orang lain. Pendahuluan berupa kutipan seseorang dapat langsung menyentuh rasa pembaca, sekaligus membawanya ke pokok bahasan yang akan dikemukakan dalam artikel nanti.
·   Amanat langsung. Pendahuluan berbentuk amanat langsung kepada pembaca sudah tentu akan lebih akrab karena seolah-olah tertuju kepada perorangan.
            Meskipun merupakan pendahuluan, bagian ini tidaklah mutlak ditulis pertama kali. Mengingat tugasnya untuk memancing minat dan mengarahkan pembaca ke arah pembahasan, sering kali menulis bagian pendahuluan ini menjadi lebih sulit daipada menulis judul atau tubuh tulisan. Oleh karena itu, Soeseno (1982: 43) menyarankan agar menuliskan bagian lain terlebih dahulu.

Menulis Bagian Pembahasan atau Tubuh Berita
Bagian ini disarankan dipecah-pecah menjadi beberapa bagian. Masing-masing dibatasi dengan subjudul-subjudul. Selain memberi kesempatan agar pembaca beristirahat sejenak, subjudul itu juga bertugas sebagai penyegar, pemberi semangat baca yang baru (Soeseno 1982: 46). Oleh karena itu, ada baiknya subjudul tidak ditulis secara kaku. Pada bagian ini, kita bisa membahas topik secara lebih mendalam. Uraikan persoalan yang perlu dibahas, bandingkan dengan persoalan lain bila diperlukan.

Menutup Artikel
Kerangka besar terakhir dalam suatu karya tulis ialah penutup. Bagian ini biasanya memuat simpulan dari isi tulisan secara keseluruhan, bisa juga berupa saran, imbauan, ajakan, dan sebagainya (Tartono 2005: 88). Ketika hendak mengakhiri tulisan, kita tidak mesti terang-terangan menuliskan subjudul berupa "Penutup" atau "Simpulan". Penutupan artikel bisa kita lakukan dengan menggunakan gaya berpamitan (Soeseno 1982: 48). Gaya pamit itu bisa ditandai dengan pemarkah seperti "demikian", "jadi", "maka", "akhirnya", dan bisa pula berupa pertanyaan yang menggugah pembaca.

Pemeriksaan Isi Artikel
Ketika selesai menulis artikel, hal selanjutnya yang perlu kita lakukan ialah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Untuk meyakinkan bahwa tulisan yang kita hasilkan memang baik, kita harus rajin memeriksa tulisan kita. Untuk memudahkan pengoreksian artikel, beberapa pertanyaan berikut perlu kita jawab (Pranata 2002: 129-130). Untuk pembukaan, misalnya, apakah kalimat pembuka bisa menarik pembaca? Dapatkah pembaca mulai mengerti ide yang kita tuangkan? Jika tulisan kita serius, adakah kata-kata yang sembrono? Apakah pembukaan kita menyediakan cukup banyak informasi?
Untuk isi atau tubuh, apakah kalimat pendukung sudah benar-benar mendukung pembukaan? Apakah masing-masing kalimat berhubungan dengan ide pokok? Apakah ada urutan logis antarparagraf? Untuk simpulan, apakah disajikan dengan cukup kuat? Apakah mencakup semua ide tulisan? Bagaimana reaksi kita terhadap kata-kata dalam simpulan tersebut? Sudah cukup yakinkah kita bahwa pembaca pun akan memiliki reaksi seperti kita? Jika kita menjawab "tidak" untuk tiap pertanyaan tersebut, berarti kita perlu merevisi artikel itu dengan menambah, mengganti, menyisipi, dan menulis ulang bagian yang salah.

Aspek Bahasa dalam Artikel
Melihat target pembacanya yang adalah khalayak umum, kita perlu mencermati bahasa yang kita gunakan dalam menulis artikel ilmiah populer ini. Meskipun bersifat ilmiah (karena memakai metode ilmiah), bukan berarti tulisan yang kita hasilkan ditujukan untuk kalangan akademisi. Sebaliknya, artikel ilmiah populer ditujukan kepada para pembaca umum. Mengingat kondisi tersebut, kita perlu membedakan antara kosakata ilmiah dan kosakata populer. Kata-kata populer merupakan kata-kata yang selalu akan dipakai dalam komunikasi sehari-hari, baik antara mereka yang berada di lapisan atas maupun di lapisan bawah, demikian sebaliknya. Sedangkan kata-kata yang biasa dipakai oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah, pertemuan-pertemuan resmi, diskusi-diskusi khusus disebut kata-kata ilmiah (Keraf 2004: 105-106).


D.     DAFTAR BACAAN
Eneste, Pamusuk, Buku Pintar Penyuntingan Naskah. Edisi Kedua (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005).
Kamandobat, Faisal, “Terjebak antara Pengarang dan Penulis” dalam Kompas, Sabtu, 24 Maret 2007, 14.
Keraf, Gorys, Diksi dan Gaya Bahasa (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004).
Nadeak, Wilson, Bagaimana Menjadi Penulis Kristiani yang Sukses (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1989).
Pranata, Xavier Quentin, Menulis dengan Cinta: Belajar Mandiri dan Mengajarkan Kembali Jurnalisme Kasih Sayang (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2002).
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga (Jakarta: Balai Pustaka, 2002).
Soeseno, Slamet, Teknik Penulisan Ilmiah-Populer (Jakarta: Gramedia, 1982).
Tartono, St. S., Menulis di Media Massa Gampang! (Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama, 2005).



________________

1 komentar: