A. Pengertian
Materialisme
Materialisme,
asal katanya dari bahasa Inggris : Materialism, dan ajaran ini menekankan pada
keunggulan faktor-faktor”material” atas yang “spiritual” dalam metafisika,
teori nilai, fisiologi, epistemologi atau penjelasan historis.[1]
Materialis,
Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat
dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas
materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah
satu-satunya substansi. Sebagai teori materialisme termasuk paham ontologi
monistik. Materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada
dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas,
materialisme berseberangan dengan idealisme. Materialisme adalah ajaran yang
menekankan keunggulan faktor-faktor material atas yang spiritual dalam
metafisika, teori nilai, fisiologi, epistimologi atau penjelasan historis. Ada beberapa macam
materialisme, yaitu materialisme biologis, materialisme parsial, materialisme
antropologis, materialisme dialektis, dan materialisme historis. Materialisme
adalah sistem pemikiran yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan
yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada
kebudayaan Yunani Kuno, dan mendapat penerimaan yang meluas di abad 19, sistem
berpikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham Materialisme dialektika Karl
Marx.
Objek pembahasan materialisme sendiri berbeda
dengan pembahasan positivisme. Dasar – dasar filsafat ini di bangun oleh Saint
Simon dan dikembangkan oleh Auguste Comte (1798-1857). Ia menyatakan bahwa
pengetahuan manusia berkembang secara evolusi dalam tiga tahap, yaitu teologis,
metafisik dan positif. Pengetahuan positif merupakan puncak pengetahuan manusia
yang disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah. Sesuai dengan pandangan tersebut
kebenaran metafisik yang diperoleh dalam metafisika ditolak[2],
karena kebenarannya sulit dibuktikan dalam kenyataan.Auguste Comte mencoba
mengembangkan Positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama. Hal ini
terbukti dengan didirikannya Positive Societies di berbagai tempat yang
memuja kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan. Perkembangan selanjutnya dari
aliran ini melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan fakta-fakta yang
bersifat materi, yang dikenal dengan Materialisme. Di dalam ajaran materialisme
metafisika tidak ditolak karena materialisme sendiri berdasarkan metafisika.
Metafisika sendiri di dalam kamus ilmiah popular memiliki arti salah satu
cabang filsafat yang membicarakan problem watak yang sangat mendasar dari pada
benda di belakang pengalaman yang langsung secara komprehensif[3].
MATERIALISME
DIALEKTIS
Orang yang diangap penting atau
tokoh besar dari materialisme dialektik atau historIs ini adalah Karl Marx. Ia
adalah seorang filosuf asal Jerman ( 1818 – 1883 ) sehingga aliran ini juga
disebut Marxisme. Marx sendiri menolak ajaran Hegel, yang mana Hegel mencoba
mencari yang mutlak dari yang tidak mutlak. Yang mutlak itu roh ( jiwa ),
tetapi roh itu menjelma pada alam dan dengan demikian ssadarlah aka dirinya.
Roh ini ada dalam intinya idea, artinya : Berpikir. Dalam sejarah kemanusiaan
sadarlah roh akanini akan dirinya. Demikian kemanusiaan itu merupakan bagian
dari idea yang mutlak, Tuhan sendiri. Idea yang berpikir itu adalah gerak ,
akan tetapi bukanlah gerak yang maju terus, akan tetapi gerak yang menimbulkan
gerakan lain. Gerak ini mewujudkan thesis yang dengan sendirinya menimbulkan gerak
yang bertentangan, antithesis. Adanya thesis dan antithesisnya itu menimbulkan
syntesis dan ini merupakan thesis baru yang sendirinya memunculkan
antithesisnya serta terjadinya syinthesis baru. Maka demikian ada proses idea.
Proses inilah yang kemudian di sebut oleh Hegel dialektika.
Marx
lebih setuju dengan pendapat Feuerbach yang mengajarkan manusia haru di pandang
sebagai gattung, sebagai mahluk alamiah. Oleh karena itu pemikiran spekulatif
seperti yang dikatakan Hegel harus ditolak, sebab hanya apa yang nyatalah yang
benar[4]. Materialisme
Mark memang lebih mendalam dari materialisme yang dulu – dulu. Manusia itu,
demikian kata marx, ditentukan oleh alam dan kodratnya, tetapi kodrat ini
dipandang dari sudut kemasyarakatannya, bukannya dipandang dari segi individu.
Adapun masyarakat hrus berkembang, dan perkembangan inilah yang disebut
sejarah. Yang membuat masyarakat itu brkembang adalah kekuatan – kekuatan
material untuk menghasilkan sesuatu. Jadi perkembangan masyarakat itu tidak lain adalah bersumber dari
perkembangan bahan. Yang nyata perkembangan itu terdorong rasa untuk hidup.
Yang termasuk kerangka hidup diantaranya adalah makan, minum, dan pakaian.
DASAR-DASAR PANDANGAN DUNIA MATERIALISME
Dasar-dasar pandangan dunia Materialisme
dapat didiilustrasikan sebagai berikut:
Pertama, bahwa
wujud itu sama dengan materi dan material. Sesuatu itu dianggap ada apabila ia
berupa materi yang memiliki bentuk dan meliputi tiga dimensi (panjang, lebar
dan padat) atau meliputi tipologi materi sehingga ia disifati dengan kuantitas
dan dapat dibagi. Atas dasar inilah penganut Materialisme mengingkari wujud
Allah, karena wujud-Nya nonmateri dan metafisis.
Kedua, bahwa
materi bersifat azali, abadi, tidak dicipta dan tidak membutuhkan sebab
apapun, yang dalam Filsafat dinamakan wajibul wujud.
Ketiga, kita
tidak mungkin mengatakan bahwa alam ini memiliki tujuan dan sebab akhir, karena
tidak ada pelaku yang memiliki ilmu dan kehendak sehingga dapat dinis-bahkan
suatu tujuan penciptaan kepadanya.
Keempat,
sesungguhnya fenomena alam (baca: bukan materi utamanya) muncul akibat adanya
perpindahan pada atom-atom materi, dan adanya interaksi antara satu dengan
lainnya. Dari sini dapat dikatakan bahwa fenomena alam yang terdahulu berperan
sebagai syarat dan sebab penyiap bagi fenomena-fenomena berikutnya.
Dalam hal ini, kita pun dapat menerima kemungkinan yang paling jauh, bahwa
fenomena alam terdahulu itu adalah sebagai sebab pelaku alami di antara hal-hal
material. Misalnya, sebuah pohon dapat dianggap sebagai pelaku alami
bagi munculnya buah-buahan. Sedang hal-hal yang bersifat fisikal dan kimiawi
dapat disandarkan kepada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Namun, tidak ada
satu pun fenomena yang butuh kepada pelaku dan pencipta Ilahi.
Di sini, dapat pula ditambahkan basis
epistemologis sebagai dasar kelima. Dan bisa pula dianggap sebagai prolog bagi
semua dasar-dasar lainnya, yaitu bahwa pengetahuan yang diperoleh berdasarkan
empiris adalah satu-satunya pengetahuan yang dapat diakui keabsahannya,
mengingat bahwa eksperimen indrawi hanya dapat membuktikan wujud materi dan
hal-hal material, dan tidak bisa membuktikan wujud lainnya. Karenanya,
kita tidak mungkin menerima wujud apa pun yang selain materi. Akan tetapi, pada
pelajaran yang telah lalu telah jelas kerapuhan pandangan ini, dan kami rasa
tidak perlu lagi mengulanginya. Untuk itu, kita akan membahas empat dasar saja.
KRITIK ATAS PANDANGAN DUNIA MATERIALISME
Kritik atas Dasar Pertama
Dasar ini merupakan
yang terpenting dalam pandangan dunia Materialis, meski sekadar klaim tanpa
argumen. Argumen apa pun tidak dapat digunakan untuk menafikan wujud metafisis,
khususnya berdasarkan epistemologi materialistik yang berlandaskan pada indra
dan persepsi. Karena eksperimen indrawi apa pun tidak akan dapat menjelaskan
tentang sesuatu di luar lingkup materi dan material, baik penilaiannya yang
positif maupun negatif. Asumsi maksimal -sesuai dengan logika materialis- yang
dapat dinyatakan adalah bahwa wujud metafisis itu tidak dapat dibuktikan.
Dengan demikian, paling tidak kita harus menerima asumsi kewujudannya, karena
sesuatu yang tidak dapat dibuktikan kewujudannya tidak berarti bahwa sesuatu
itu benar-benar tidak ada, sebagaimana ungkapan para filosof bahwa “Adamu
al-wujdan la yadullu ala adami al-wujud” (tidak diketahui tidak berarti
tiada).
Pada pembahasan
sebelumnya telah kami jelaskan bahwa manusia dapat mengetahui berbagai
persoalan nonmateri yang tidak memiliki kekhasan materi seperti ruh, seseorang
dapat mengetahuinya dengan ilmu hudhuri (ilmu presentif). Bahkan argumen
rasional pun telah banyak membuktikan berbagai wujud abstrak (mujarrad)
dalam buku-buku filsafat. Bukti yang paling utama atas keberadaan abstrak ruh
ialah adanya mimpi yang nyata, perbuatan-perbuatan para petapa,
mukjizat-mukjizat para Nabi dan karamah para wali Allah.
Alhasil, untuk mengikis
dasar-dasar Materialisme tersebut cukup dengan menggunakan dalil-dalil yang digunakan
untuk menetapkan wujud Allah swt. dan kenonmaterian-Nya.
Kritik atas
Dasar Kedua
Dasar ini berlandaskan
pada keabadian dan keutuhan materi. Kesimpulannya, materi itu bukan yang
tercipta. Kritik atas dasar ini adalah:
Pertama, kita tidak mungkin dapat
menetapkan keabadian materi berdasarkan dalil-dalil ilmiah dan eksperimen.
Karena, ruang-lingkup eksperimen sangatlah terbatas yang tidak mungkin dapat
mencakup bidang ini. Bahkan eksperimen apapun tidak akan dapat membuktikan
ketidakterbatasan alam semesta ini dari sisi ruang dan waktunya.
Kedua, bahwa
keabadian materi tidak memestikan ketak-butuhannya kepada pencipta. Misalnya,
asumsi adanya gerak mekanik yang bersifat abadi menuntut asumsi adanya potensi
penggerak yang bersifat abadi pula, bukan malah mem-buktikan ketidakbutuhannya
kepada potensi penggerak.
Di samping itu,
pandangan bahwa materi itu tidak dicipta berarti ia merupakan wajibul
wujud. Pada pelajaran kedelapan telah kita buktikan kemustahilan materi
sebagai wajibul wujud.
Kritik atas
Dasar Ketiga
Dasar ketiga ini adalah
pengingkaran atas tujuan alam semesta sebagai akibat dari mengingkari Sang
Pencipta. Tentu, jika kita dapat membuktikan adanya Sang Pencipta yang bijak,
dasar pemikiran ini akan gugur.
Di samping itu, ada
sebuah pertanyaan yang perlu mereka jawab, yaitu bahwa setiap orang yang
berakal –ketika menyaksikan hasil ciptaan manusia– mengetahui bahwa mereka
mempunyai tujuan. Akan tetapi ketika ia menyaksikan tatanan alam semesta yang
menakjubkan, dan memiliki hubungan yang serasi antara satu dengan yang lainnya,
serta memberikan anugerah kenikmatan yang melimpah ruah yang tidak terhitung
banyaknya, bagaimana mungkin ia meyakini bahwa alam tersebut tidak
memiliki tujuan?
Kritik atas
Dasar Keempat
Dasar keempat bagi
pandangan dunia Materialisme adalah membatasi sebab hanya pada hubungan materi
pada feno-mena alam. Banyak sekali kritik yang dilontarkan atas dasar ini, di
antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, bahwa
dasar dan pandangan ini melazimkan tidak ditemukannya realitas yang baru apapun
di alam ini. Padahal, kita senantiasa saksikan munculnya fenomena-fenomena
materi yang baru, khususnya pada alam manusia dan binatang. Paling utamanya
adalah kehidupan, rasa, sensi-tifitas, indra, pikir, penciptaan dan kehendak.
Kaum Materialis menganggap bahwa fenomena-fenomena ini merupakan ciri-ciri khas
materi dan bukan sesuatu yang lain.
Ada
beberapa catatan untuk menjawab pandangan di atas:
a. Bahwa keunikan
yang meniscayakan materi dan material yang tidak mungkin berpisah darinya
adalah imtidad (ekstensi) dan dapat dibagi. Ciri-ciri ini tidak
ditemukan pada fenomena-fenomena yang telah kami sebutkan.
b. Tidak diragukan
lagi bahwa fenomena-fenomena yang dinamakan “keunikan materi” tersebut tidak
ditemukan pada materi yang tidak bernyawa. Dengan kata lain, materi tersebut
sebelumnya tidak memiliki keunikan masa. Barulah kemudian keunikan masa ini
diwujudkan padanya. Dengan demikian, fenomena-fenomena itu –yang dikenal dengan
tipologi materi– butuh kepada pencipta yang telah mengadakannya di dalam
materi. Pencipta inilah yang dinamakan ‘illat mujidah (sebab pengada).
Kedua, pandangan
ini melazimkan Jabariyah (deter-minisme) atas munculnya seluruh fenomena alam,
karena tidak ada peluang baginya untuk berikhtiar dan berkehendak akibat pengaruh
dan reaksi materi. Sedangkan menolak ikhtiar –di samping bertentangan
dengan nurani dan realita– dapat melazimkan pengingkaran terhadap tanggung
jawab, norma-norma moral dan nilai-nilai maknawi. Dan kita tahu betapa
malapetaka yang akan menimpa atas kehidupan manusia akibat mengingkari tanggung
jawab dan nilai-nilai akhlak tersebut.
Akhirnya,
dengan memperhatikan bahwa materi itu tidak mungkin sebagai wajibul wujud
–sebagaimana telah kami buktikan pada pembahasan yang telah lalu– maka ia
(materi) harus memiliki sebab. Sebab tersebut mesti bukan berupa sebab natural
dan penyiap. Karena, hubungan-hubungan tersebut tidak dapat dipahami
kecuali di antara hal-hal material saja. Adapun totalitas materi itu sendiri
tidak mungkin memiliki hubungan semacam itu dengan sebabnya. Atas dasar ini,
sebab yang mengadakan materi adalah Sebab Pengada yang nonmateri
BAHAYA VIRUS MATERIALISME
Materialisme
adalah faham hidup yang dianut banyak manusia sejak zaman dahulu kala sampai
hari ini. Bahkan IBLIS adalah BAPAK MATERIALISME PERTAMA di alam semesta ini.
Kebanggaannya dan klaimnya yang tidak didasari pengetahuan, bahwa api lebih
baik dari tanah adalah bukti bawah Iblis adalah penganut paham materialisme
pertama. Kemudian diteruskan oleh anak cucu Adam yang tergoda dan tertipu oleh
Iblis. Tidak ada perbedaan mendasar antara materialisme di zaman prasejarah
maupun di zaman moderen sekarang ini. Secara umum, materialisme terbagi kepada
tiga kategori:
- Materialisme yang berkedok ilmu pengetahuan seperti yang
dikembangkan kaum evolusionis. Pemikiran seperti ini bermuara dari
falsafah materialisme yang dikembangkan Barat dari pemikiran dan falsafah
Yunani Kuno. Kaum materialis yang berkedok ilmu pengetahuan ini
sesungguhnya menafikan keberadaan Tuhan Pencipta alam semesta. Modelnya
yang klasik di zaman moderen adalah Charles Darwin dan kawan-kawannya
dengan teori evolusinya yang miskin argumentasi. Ironisnya, teori evolusi
telah menjadi landasan berfikir peradaban Barat moderen dan juga Dunia
Islam yang terpengaruh oleh peradaban Barat tersebut.
Teori yang dikembangkan kaum evolusionis-materialis ini telah melahirkan generasi ateis di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Dunia Islam. Namun demikian, teori yang sempat dibanggakan oleh berbagai kalangan ilmuwan dunia sekitar satu setengah abad ini secara ilmiah telah kandas sejak awal abad 20 karena nyata-nyata bertentangan dengan berbagai penemuan ilmiah yang tak terbantahkan seperti teori Big Bang, penemuan sisa-sisa radioaktif oleh ilmuwan NASA tahun 1988 dan berbagai penemuan ilmiah lainnya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan moderen seperti embriologi, astronomi dan sebagainya. Semua penemuan tersebut dengan jelas membuktikan adanya Zat Pencipta alam semesta yakni Allah Ta’ala. Kendati demikian, pengaruh paham materialisme yang berkedok ilmu pengetahuan tersebut masih kuat dalam kehidupan masnusia moderen karena telah menjadi kultur/budaya. - Materialisme yang berbasis sosial ekonomi. Faham materialisme ini boleh dikatakan sebagai saudara kembar faham materialisme yang berkedok ilmu pengetahuan. Kendati materialisme berbasis sosial ekonomi ini tidak sevulgar jenis yang pertama dalam menolak dan menafikan eksistensi Tuhan Pencipta, namun implikasinya dalam kehidupan sama saja, yakni penolakan atas konsep Tuhan Pencipta secara total atau setengah-setengah dan pada waktu yang bersamaan terjebak mempertuhankan benda dan apa saja yang berbentuk materi khususnya harta benda pangkat dan lain sebagainya.
- Materialisme yang berbasis tanah dan air atau apa yang disebut dengan pamah nasionalisme. Faham materialisme jenis ini sesungguhnya sudah terkikis dari atas bumi, khususnya di negeri-negeri Islam sejak Rasululllah Saw. mendeklarasikan pertama kali Negara Madinah, sebuah negara moderen yang didasari falsafah, iodelogi Tauhid yang menjadi dasar konsep kenegaraan dan pemerintahan moderen. Di antaranya ialah standarisasi loyalitas terhadap tanah tempat kelahiran manusai bukan berdasarkan keturunan, warna kulit, bahasa, suku, tempat dan tanggal lahir dan sebagainya, melainkan berdasarkan komitment idelogi terhadap Tuhan Pencipta, serta tegaknya nilai-nilai kebenaran dan keadilan di tengah masyarakat, kendati mereka berbeda suku, warna kulit, bahasa, dan bahkan berbeda agama sekalipun.
Kondisi
seperti itu tegak beridri sampai tahun 1924 atau sekitar tahun 1344 hijriyah.
Setelah Khilafah Islamiyah Utsmaniah tumbang dan hancur di tangan Mustafa Kemal
Aturk, faham materialisme berbasis nasionlisme mulai eksis di dunia Islam
sehingga dunia Islam yang tadinya satu, tercabik-cabik menjadi lebih dari 50
negara dan pemerintahan, bahakan ada yan penduduk aslinya hanya sekitar 500.000
jiwa saja seperti Brunai, Qatar dan sebaginya. Dunia Islampun menjadi lemah dan
menjadi santapan empuk atau boneka kaum kolonialis Eropa dan Amerika.
Fakta
menunjukkan, bahwa ketiga faham materialisme tersebut menjadi fakor utama
kehancuran dan kekacauan tatanan hidup manusia. Berbagai fasilitas dunia yang
seharusnya berfungsi sebagai sarana kehidupan telah berubah menjadi tujuan
utama bagi kehidupan. Tidak jarang pula fasilitas kehidupan dunia berubah
menjadi tujuan dan dicintai melebihi cinta kepada Tuhan Pencipta, bahkan ada
pula manusia yang menyembahnya. Akibatnya, berbagai nilai dan aturan yang
menata kehidupan manusia dengan mudah dilanggar. Pola hidup menjadi tidak
terkendali sehingga menghalalkan segala cara dan tanpa mempertimbangkan
kerusakan yang timbul dalam masyarakat dan lingkungan.
Sebagai
akibat lain dari materialisme adalah, manusia lupa akan Perjalanan Wisata
Abadinya (Rihlatul Khulud) yang amat panjang, bermula dari sebelum mereka
dilahirkan ke dunia dan berakhir ketika mereka kembali kepada Tuhan Pencipta di
sebuah negeri abadi yang bernama Akhirat.
Negeri abadi
tersebut dirancang Tuhan Pencipta sebagai kompensasi dari apa yang mereka
lakukan ketika hidup di dunia; jika baik akan mendapatkan kebaikan dan akan
dibalas dengan Syurga, sedangkan keburukan akan mendapatkan balasan yang buruk
pula dengan balasannya Neraka. Nna’uzu billaah min dzaalik...
Materialisme
juga mengajarkan semua standar kesuksesan hidup di dunia selalu diukur dengan
materi. Padahal dalam kenyataan hidup ini, tidak sedikit yang memiliki materi
berlimpah, malah hidupanya tersiksa dan menderita. Kesuksesan hanya sebatas
dalam pencapaian keduniaan berupa pangkat, kedudukan, status sosial dan harta.
Lupa, bahwa di atas segala kesuksesan adalah kesuksesan di Akhirat kelak.
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُون (سورة الروم)
“Mereka hanya mengetahui
yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan)
Akhirat adalah lalai”. (Q.S. Ar-Rum (30) : 7)
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ
الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ
فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ (185) ( سورة آل
عمران)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan
merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan
pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga,
maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah
kesenangan yang memperdayakan.” (Q.S. Ali Imran (3) : 185)
KESIMPULAN
Kata materialisme terdiri dari kata materi dan isme. Dalam kamus besar
bahasa indonesia materi adalah bahan;benda;segala sesuatu yang tampak.
Masih dari kamus yang sama disebutkan bahwa materialis adalah pengikut
paham (ajaran) materialisme atau juga orang yang mementingkan
kebendaan(harta,uang,dsb).
Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang
termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan
mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Ini sesuai dengan
kaidah dalam bahasa indonesia. Jika ada kata benda berhubungan dengan kata isme
maka artinya adalah paham atau aliran.
Materialis adalah paham yang hanya bersandar pada materi(ma’dah) yang tidak
meyakini apa yang ada di balik alam ghaib. Tidak meyakini alam ghaib berarti
tidak meyakini adanya kekuatan yang menguasai alam semesta ini. Dan hal ini
secara otomatis menafikan adanya tuhan sebagai pencipta alam semesta. Karena
menurut paham ini, alam beserta isinya berasal dari satu sumber yaitu
materi(ma’dah).
Pemikiran ini sama halnya seperti atheisme dalam bentuk dan substansinya
yang tidak mengakui adanya tuhan secara mutlaq. Para penganut paham ini menolak
agama sebagai hukum kehidupan manusia. Mereka lebih mengedepankan akal sebagai
sumber segala hukum. Pada akhirnya prinsip ini melahirkan suatu ideologi bahwa
hukum hanyalah apa yang bisa diterima oleh akal. Padahal kita ketahui bahwa
hasil pemikiran manusia bersifat relatif. Dalam artian bisa salah dan benar.
Atheisme dan materialis memiliki ikatan yang sangat erat yang tidak bisa
dipisahkan antara keduanya. Yaitu tidak mengakui adanya tuhan. Karena mereka
mengingkari alam ghaib.
KARAKTERISTIK
DAN CIRI-CIRI PAHAM MATERIALIS
Secara
global,ciri-ciri paham ini bisa kita klarifikasikan. Setidaknya ada 5 dasar
ideologi yang dijadikan dasar keyakinan paham ini:
· Segala yang ada(wujud) berasal dari satu sumber
yaitu materi(ma’dah).
· Tidak meyakini adanya alam ghaib
· Menjadikan panca-indra sebagai satu-satunya alat
mencapai ilmu
· Memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam
peletakkan hukum
· Menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai
akhlaq.
DAFTAR
PUSTAKA
Bertens. 1975. Ringkasan Sejarah Filsafat. Kanisius. Yogyakarta
Partanto
Pius A & Al Barry. M. Dahlan. 1994. Kamus
Ilmiah Populer. Arkola. Surabaya
Sudarsono. 2008. Filsafat Suatu Pengantar. Rineka Cipta. Jakarta
Catatan
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
Tidak ada komentar:
Posting Komentar