Selasa, 17 April 2012


Dalam upaya meningkatkan kehidupan masyarakat pada taraf yang lebih baik dan bisa berkembang secara dinamis, pendidikan mempunyai peranan yang urgen untuk mewujudkan hal tersebut. Dalam hal ini pendidikan merupakan usaha untuk memberikan bimbingan kepada peserta didik dalam rangka untuk membentuk karakter, pengembangan pengetahuan dan kepribadian secara utuh,  mampu bertanggung jawab terhadap segala perbuatannya serta dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmaniah maupun rohaniah. Dengan demikian pendidikan merupakan usaha yang fundamental dalam kehidupan masyarakat.
Sehubungan dengan hal tersebut, pendidikan di dalam Islam mempunyai peranan yang amat penting dalam rangka mentransformasikan nilai-nilai yang ada di dalam Islam. Sehingga nilai-nilai yang ada dapat terealisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
“Peranan pendidikan Islam merupakan salah satu bentuk manefestasi dari cita-cita hidup untuk melestarikan, mengalihkan, menanamkan, serta mentrasformasikan nilai-nilai Islam tersebut kepada generasi penerusnya, sehingga nilai-nilai kultural-relegius yang dicita-citakan dapat tetap berfungsi dan berkembang dalam kehidupan masyarakat”.[1]
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Islam memandang bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang esensial di dalam memberikan predikat baik buruknya perjalanan hidup seseorang. Maka sudah sepantasnya, jika Islam mewajibkan untuk menuntut ilmu bagi setiap umatnya. Hal ini untuk memberikan pembinaan kepribadian terhadap peserta didiknya, yaitu pribadi yang mandiri mantap, serta tangguh di dalam memperjuangkan kehidupannya berdasarkan nilai-nilai Islam.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin pesat tidak hanya mendatangkan dampak yang positif bagi manusia, tetapi juga memiliki dampak yang negatif, yakni dengan semakin banyaknya tingkah laku anak yang menyimpang dari norma-norma agama. Oleh karena itu menajdi tanggung jawab orang tua dan lembaga pendidikan untuk mengatasinya. Lebih-lebih pada lembaga pendidikan agama (madrasah). Salah satu antisipasi yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan pembinaan kepribadian yang tepat kepada peserta didik secara kontinu.     
Pendidikan Islam mempunyai peranan yang urgen dalam pembinaan kepribadian peserta didik serta menanamkan budi pekerti yang luhur sebagai manefestasi dari pembangunan manusia seutuhnya. Hal ini disebabkan bahwa pendidikan Islam mempunyai orientasi pada masa depan peserta didik.
Sehingga pendidikan saat ini bukanlah membentuk manusia utuh atau sempurna yang layak untuk menjadi khalifah dibumi melainkan manusia yang individualis, materialis dan pragmatis. Hal ini sangatlah berakibat fatal karena yang kuat menindas yang lemah, yang berenang tetaplah berwenang dan yang kuat menindas yang lemah, tanpa ingat dosa. Maka dari sinilah kami akan mengangkat sebuah tema yang menyajikan tentang arti dan pentingnya pendidikan bagi kita, yang kami ambil dari pemikiran inteliktual muslim yang terkenal yaitu “Al-Jabiri”.


[1] Arifin, 2003, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara. Hlm.11

Sabtu, 14 April 2012

MENULIS ARTIKEL ILMIAH POPULER Oleh abdul rosid


A.     MENULIS dan MENGARANG
Terdapat suatu pandangan tradisional yang menyebutkan bahwa menulis dan mengarang adalah dua kegiatan yang berbeda, meski sama-sama berkenaan dengan aspek kebahasaan. Kegiatan menulis sering diasosiasikan dengan ilmu yang sifatnya faktual, sedangkan kegiatan mengarang selalu diasosiasikan dengan karya sastra yang fiksional (Kamandobat 2007). Menjejak pada asumsi di atas, maka dengan kata lain dapat dikatakan, kegiatan menulis mutlak membutuhkan studi ilmiah, sedangkan kegiatan mengarang tidak.
Pandangan tersebut tentu tidak benar. Kita tentu ingat novel "The da Vinci Code" yang karangan Dan Brown yang menggemparkan itu. Lalu kita juga mungkin masih ingat "The Origin of Species" karya Charles Darwin. Keduanya berasal dari ranah yang berbeda, namun masing-masing disajikan dengan bahasa yang terkesan ilmiah dan literer. Akan tetapi, ada satu hal yang membedakan keduanya. Hal itu adalah dalam hal penekanannya. Meskipun sebuah karya tulis disajikan dengan bahasa literer, bila penekanannya menjurus ke bidang keilmuan—termasuk ilmu sastra—kita dapat mengelompokkannya ke dalam kegiatan menulis. Demikian sebaliknya, kegiatan menghasilkan karya tulis yang lebih bernuansa fiktif, meski terkesan faktual, bisa disebut sebagai kegiatan mengarang.

Apa itu Artikel?
Ada sejumlah pengertian mengenai artikel. Berikut beberapa di antaranya.
Artikel merupakan karya tulis lengkap, misalnya laporan berita atau esai di majalah, surat kabar, dan sebagainya (KBBI 2002: 66). Ada juga pengertian lainnya, yakni artikel adalah sebuah karangan prosa yang dimuat dalam media massa, yang membahas isu tertentu, persoalan, atau kasus yang berkembang dalam masyarakat secara lugas (Tartono 2005: 84).
Berdasar pengertian di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa artikel adalah: (1) karya tulis atau karangan, (2) karangan nonfiksi, (3) karangan yang tak tentu panjangnya, (4) karangan yang bertujuan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur, (5) sarana penyampaiannya adalah surat kabar, majalah, dan sebagainya, dan (6) wujud karangan berupa berita atau "karangan khas" (Pranata 2002: 120).
Sekali lagi, di berbagai suratkabar atau majalah, selain terdapat berita, biasanya terdapat juga artikel/tulisan ilmiah populer. Apakah yang dimaksud dengan "ilmiah" itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Kedua, 1996), ilmiah berarti bersifat ilmu; secara ilmu pengetahuan; memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan. Adapun yang dimaksud dengan ilmu sendiri adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Sedangkan yang dimaksud dengan ilmiah populer adalah menggunakan bahasa umum, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat awam.
Penulisan ilmiah dengan demikian terbagi dua: penulisan ilmiah (biasa) dan penulisan ilmiah populer. Apa perbedaan antara keduanya?
Penulisan ilmiah: Biasanya ditujukan pada khalayak pembaca yang terbatas dalam bidang keilmuan tertentu. Oleh karena sifatnya yang agak eksklusif, ia bebas saja menggunakan jargon atau istilah yang khas di bidang keilmuan tersebut, dengan asumsi bahwa khalayak pembacanya pasti sudah mengetahui makna, tanpa harus dijelaskan lebih lanjut. Sebagai contoh, seorang mahasiswa fakultas ekonomi, yang diperintahkan dosennya untuk membuat makalah guna dipresentasikan di depan kelas, tentu akan menulis makalah ilmiah tersebut dengan memakai kosa kata/istilah yang lazim digunakan dalam ilmu ekonomi. Tulisan-tulisan untuk dimuat di jurnal sosiologi, jurnal kimia, atau majalah kedokteran, tentu harus menggunakan teknik penulisan ini.
Penulisan ilmiah populer: Biasanya ditujukan pada khalayak pembaca umum, dengan latar belakang tingkat pengetahuan dan keilmuan yang beragam. Oleh karena itu, si penulis sejauh mungkin menghindari istilah-istilah yang terlalu teknis atau khas dalam bidang keilmuan tertentu, yang kemungkinan besar tidak akan dipahami oleh orang lain di luar bidang ilmu tersebut. Misalnya, orang yang mengirim artikel untuk dimuat di suratkabar, jelas akan menulis dengan gaya ilmiah populer.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara tulisan ilmiah dan tulisan ilmiah populer hanyalah dalam cara penyampaian dan gaya/teknik penulisan. Dari segi isi, keduanya sama ilmiahnya. Namun demi disebut "ilmiah", tidaklah berarti suatu tulisan harus dibuat rumit, penuh istilah teknis, dan membuat kening pembaca berkerut.

B.      BEBERAPA PEDOMAN PENULISAN
Beberapa pedoman dalam penulisan ilmiah populer, antara lain:
1.      Tulisan ilmiah populer pada dasarnya terikat pada "hukum" yang sama seperti tulisan-tulisan lain di media massa. Misalnya, sedapat mungkin judul harus menarik. Begitu juga lead (alinea pertama dalam sebuah tulisan). Lead ini berfungsi sebagai "kail" yang memancing calon pembaca untuk membaca sebuah tulisan. Bila judul dan lead sudah tidak menarik, tulisan ini bisa dibilang gagal, karena tidak ada yang tertarik untuk membacanya.
2.      Bahasa penulisan ilmiah populer harus mengalir, runtun. Yakni, supaya jelas masalah yang dikemukakan, serta jelas pula argumen yang dipaparkan dalam memandang dan menempatkan masalah tersebut. Dalam hal yang menyangkut teknologi, jelas pula solusi yang diajukan, karena tujuan teknologi adalah memecahkan masalah tertentu.
3.      Tulisan ilmiah populer tidah usah berpretensi untuk memecahkan semua masalah secara tuntas (Terlebih jika mengacu pada sebuah asumsi bahwa tidak pernah ada masalah di dunia ini yang pernah diselesaikan secara "tuntas"?). Karena solusi terhadap suatu masalah akan menjadi masalah baru, yang menuntut solusi baru. Solusi baru itu pada gilirannya akan menjadi masalah berikutnya, yang menuntut solusi lain lagi, dan begitulah seterusnya dialektikanya. Contoh: untuk mengatasi problem jarak jauh, orang membuat mobil agar bisa menempuh jarak itu dengan lebih cepat. Namun banyaknya mobil kemudian menimbulkan masalah polusi asap. Untuk mengatasi polusi, orang lalu menciptakan mobil tenaga listrik, dan seterusnya.
4.      Tulisan ilmiah populer juga harus memperhatikan "ekonomi kata", seperti juga bentuk tulisan lain di media massa. Karena keterbatasan ruang di media cetak (ruang/halaman bisa dipakai untuk iklan, yang berarti pemasukan uang), gaya bahasa yang bertele-tele dan berpanjang-panjang harus dihindari. Gaya bahasa sedapat mungkin ringkas, jelas, dan sederhana.
5.      Untuk mempermudah pembaca memahaminya, tulisan ilmiah juga bisa dilengkapi dengan tabel atau gambar. Karena beberapa hal memang lebih mudah dijelaskan dengan gambar ketimbang uraian yang berpanjang-panjang. Orang bilang, sebuah gambar lebih berarti dari seribu kata.
6.      Harus disadari bahwa pemahaman si penulis tentang materi yang ditulisnya mungkin tidak sama dengan si pembaca. Pembaca mungkin tidak bisa membayangkan uraian si penulis tanpa tambahan ilustrasi. Bila disebutkan kecepatan sebuah pesawat tempur jet mencapai dua kali kecepatan suara (Mach 2), mungkin baik juga dijelaskan bahwa kecepatan suara adalah 300 meter/detik. Artinya, pesawat tempur itu bisa mencapai jarak 600 meter --sekitar lima kali panjang lapangan sepakbola-- dalam waktu sedetik.

C.      TAHAPAN MENULIS ILMIAH POPULER
Menguji Gagasan
Prinsip paling dasar dari melakukan kegiatan menulis ialah menentukan atau memastikan topik atau gagasan apa yang hendak dibahas. Ketika sudah menentukan gagasan tersebut, kita bisa melakukan sejumlah pengujian. Pengujian ini terdiri dari lima tahap sebagai berikut (Georgina dalam Pranata 2002: 124; bandingkan dengan Nadeak 1989: 44), yakni:
·   Apakah gagasan itu penting bagi sejumlah besar orang?
·   Dapatkah gagasan ini disempitkan sehingga memunyai fokus yang tajam?
·   Apakah gagasan itu terikat waktu?
·   Apakah gagasan itu segar dan memiliki pendekatan yang unik?
·   Apakah gagasan Anda akan lolos dari saringan penerbit?

Pola Penggarapan Artikel
Ketika hendak menghadirkan artikel, kita tidak hanya diperhadapkan pada satu kemungkinan. Soeseno (1982: 16-17) memaparkan setidaknya lima pola yang bisa kita gunakan untuk menyajikan artikel tersebut. Kelima pola yang dimaksudkan adalah:
1.      Pola pemecahan topik. Pola ini memecah topik yang masih berada dalam lingkup pembicaraan yang ditemakan menjadi subtopik atau bagian-bagian yang lebih kecil dan sempit kemudian menganalisis masing-masing.
2.      Pola masalah dan pemecahannya. Pola ini lebih dahulu mengemukakan masalah (bisa lebih dari satu) yang masih berada dalam lingkup pokok bahasan yang ditemakan dengan jelas. Kemudian menganalisa pemecahan masalah yang dikemukakan oleh para ahli di bidang keilmuan yang bersangkutan.
3.      Pola kronologi. Pola ini menggarap topik menurut urut-urutan peristiwa yang terjadi.
4.      Pola pendapat dan alasan pemikiran. Pola ini baru dipakai bila penulis yang bersangkutan hendak mengemukakan pendapatnya sendiri tentang topik yang digarapnya, lalu menunjukkan alasan pemikiran yang mendorong ke arah pernyataan pendapat itu.
5.      Pola pembandingan. Pola ini membandingkan dua aspek atau lebih dari suatu topik dan menunjukkan persamaan dan perbedaannya. Inilah pola dasar yang paling sering dipakai untuk menyusun tulisan.
Kelima pola penggarapan artikel di atas dapat dikombinasikan satu dengan yang lain sejauh dibutuhkan untuk menghadirkan sebuah tulisan yang kaya.

Menulis Bagian Pendahuluan
Untuk bagian pendahuluan, setidaknya ada tujuh macam bentuk pendahuluan yang bisa digunakan (Soeseno 1982: 42). Salah satu dari ketujuh bentuk pendahuluan berikut ini dapat kita jadikan alternatif untuk mengawali penulisan artikel kita.
·   Ringkasan. Pendahuluan berbentuk ringkasan ini nyata-nyata mengemukakan pokok isi tulisan secara garis besar.
·   Pernyataan yang menonjol. Terkadang disebut juga sebagai "pendahuluan kejutan", diikuti kalimat kekaguman untuk membuat pembaca terpesona.
·   Pelukisan. Pendahuluan yang melukiskan suatu fakta, kejadian, atau hal untuk menggugah pembaca karena mengajak mereka membayangkan bersama penulis apa-apa yang hendak disajikan dalam artikel itu nantinya.
·   Anekdot. Pembukaan jenis ini sering menawan karena memberi selingan kepada nonfiksi, seolah-olah menjadi fiksi.
·   Pertanyaan. Pendahuluan ini merangsang keingintahuan sehingga dianggap sebagai pendahuluan yang bagus.
·   Kutipan orang lain. Pendahuluan berupa kutipan seseorang dapat langsung menyentuh rasa pembaca, sekaligus membawanya ke pokok bahasan yang akan dikemukakan dalam artikel nanti.
·   Amanat langsung. Pendahuluan berbentuk amanat langsung kepada pembaca sudah tentu akan lebih akrab karena seolah-olah tertuju kepada perorangan.
            Meskipun merupakan pendahuluan, bagian ini tidaklah mutlak ditulis pertama kali. Mengingat tugasnya untuk memancing minat dan mengarahkan pembaca ke arah pembahasan, sering kali menulis bagian pendahuluan ini menjadi lebih sulit daipada menulis judul atau tubuh tulisan. Oleh karena itu, Soeseno (1982: 43) menyarankan agar menuliskan bagian lain terlebih dahulu.

Menulis Bagian Pembahasan atau Tubuh Berita
Bagian ini disarankan dipecah-pecah menjadi beberapa bagian. Masing-masing dibatasi dengan subjudul-subjudul. Selain memberi kesempatan agar pembaca beristirahat sejenak, subjudul itu juga bertugas sebagai penyegar, pemberi semangat baca yang baru (Soeseno 1982: 46). Oleh karena itu, ada baiknya subjudul tidak ditulis secara kaku. Pada bagian ini, kita bisa membahas topik secara lebih mendalam. Uraikan persoalan yang perlu dibahas, bandingkan dengan persoalan lain bila diperlukan.

Menutup Artikel
Kerangka besar terakhir dalam suatu karya tulis ialah penutup. Bagian ini biasanya memuat simpulan dari isi tulisan secara keseluruhan, bisa juga berupa saran, imbauan, ajakan, dan sebagainya (Tartono 2005: 88). Ketika hendak mengakhiri tulisan, kita tidak mesti terang-terangan menuliskan subjudul berupa "Penutup" atau "Simpulan". Penutupan artikel bisa kita lakukan dengan menggunakan gaya berpamitan (Soeseno 1982: 48). Gaya pamit itu bisa ditandai dengan pemarkah seperti "demikian", "jadi", "maka", "akhirnya", dan bisa pula berupa pertanyaan yang menggugah pembaca.

Pemeriksaan Isi Artikel
Ketika selesai menulis artikel, hal selanjutnya yang perlu kita lakukan ialah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Untuk meyakinkan bahwa tulisan yang kita hasilkan memang baik, kita harus rajin memeriksa tulisan kita. Untuk memudahkan pengoreksian artikel, beberapa pertanyaan berikut perlu kita jawab (Pranata 2002: 129-130). Untuk pembukaan, misalnya, apakah kalimat pembuka bisa menarik pembaca? Dapatkah pembaca mulai mengerti ide yang kita tuangkan? Jika tulisan kita serius, adakah kata-kata yang sembrono? Apakah pembukaan kita menyediakan cukup banyak informasi?
Untuk isi atau tubuh, apakah kalimat pendukung sudah benar-benar mendukung pembukaan? Apakah masing-masing kalimat berhubungan dengan ide pokok? Apakah ada urutan logis antarparagraf? Untuk simpulan, apakah disajikan dengan cukup kuat? Apakah mencakup semua ide tulisan? Bagaimana reaksi kita terhadap kata-kata dalam simpulan tersebut? Sudah cukup yakinkah kita bahwa pembaca pun akan memiliki reaksi seperti kita? Jika kita menjawab "tidak" untuk tiap pertanyaan tersebut, berarti kita perlu merevisi artikel itu dengan menambah, mengganti, menyisipi, dan menulis ulang bagian yang salah.

Aspek Bahasa dalam Artikel
Melihat target pembacanya yang adalah khalayak umum, kita perlu mencermati bahasa yang kita gunakan dalam menulis artikel ilmiah populer ini. Meskipun bersifat ilmiah (karena memakai metode ilmiah), bukan berarti tulisan yang kita hasilkan ditujukan untuk kalangan akademisi. Sebaliknya, artikel ilmiah populer ditujukan kepada para pembaca umum. Mengingat kondisi tersebut, kita perlu membedakan antara kosakata ilmiah dan kosakata populer. Kata-kata populer merupakan kata-kata yang selalu akan dipakai dalam komunikasi sehari-hari, baik antara mereka yang berada di lapisan atas maupun di lapisan bawah, demikian sebaliknya. Sedangkan kata-kata yang biasa dipakai oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah, pertemuan-pertemuan resmi, diskusi-diskusi khusus disebut kata-kata ilmiah (Keraf 2004: 105-106).


D.     DAFTAR BACAAN
Eneste, Pamusuk, Buku Pintar Penyuntingan Naskah. Edisi Kedua (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005).
Kamandobat, Faisal, “Terjebak antara Pengarang dan Penulis” dalam Kompas, Sabtu, 24 Maret 2007, 14.
Keraf, Gorys, Diksi dan Gaya Bahasa (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004).
Nadeak, Wilson, Bagaimana Menjadi Penulis Kristiani yang Sukses (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1989).
Pranata, Xavier Quentin, Menulis dengan Cinta: Belajar Mandiri dan Mengajarkan Kembali Jurnalisme Kasih Sayang (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 2002).
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga (Jakarta: Balai Pustaka, 2002).
Soeseno, Slamet, Teknik Penulisan Ilmiah-Populer (Jakarta: Gramedia, 1982).
Tartono, St. S., Menulis di Media Massa Gampang! (Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusatama, 2005).



________________

Jumat, 06 April 2012

MATERIALISME


A. Pengertian Materialisme
Materialisme, asal katanya dari bahasa Inggris : Materialism, dan ajaran ini menekankan pada keunggulan faktor-faktor”material” atas yang “spiritual” dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistemologi atau penjelasan historis.[1]
Materialis,  Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Materi adalah satu-satunya substansi. Sebagai teori materialisme termasuk paham ontologi monistik. Materialisme berbeda dengan teori ontologis yang didasarkan pada dualisme atau pluralisme. Dalam memberikan penjelasan tunggal tentang realitas, materialisme berseberangan dengan idealisme. Materialisme adalah ajaran yang menekankan keunggulan faktor-faktor material atas yang spiritual dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistimologi atau penjelasan historis. Ada beberapa macam materialisme, yaitu materialisme biologis, materialisme parsial, materialisme antropologis, materialisme dialektis, dan materialisme historis. Materialisme adalah sistem pemikiran yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada kebudayaan Yunani Kuno, dan mendapat penerimaan yang meluas di abad 19, sistem berpikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham Materialisme dialektika Karl Marx. 
 Objek pembahasan materialisme sendiri berbeda dengan pembahasan positivisme. Dasar – dasar filsafat ini di bangun oleh Saint Simon dan dikembangkan oleh Auguste Comte (1798-1857). Ia menyatakan bahwa pengetahuan manusia berkembang secara evolusi dalam tiga tahap, yaitu teologis, metafisik dan positif. Pengetahuan positif merupakan puncak pengetahuan manusia yang disebutnya sebagai pengetahuan ilmiah. Sesuai dengan pandangan tersebut kebenaran metafisik yang diperoleh dalam metafisika ditolak[2], karena kebenarannya sulit dibuktikan dalam kenyataan.Auguste Comte mencoba mengembangkan Positivisme ke dalam agama atau sebagai pengganti agama. Hal ini terbukti dengan didirikannya Positive Societies di berbagai tempat yang memuja kemanusiaan sebagai ganti memuja Tuhan. Perkembangan selanjutnya dari aliran ini melahirkan aliran yang bertumpu kepada isi dan fakta-fakta yang bersifat materi, yang dikenal dengan Materialisme. Di dalam ajaran materialisme metafisika tidak ditolak karena materialisme sendiri berdasarkan metafisika. Metafisika sendiri di dalam kamus ilmiah popular memiliki arti salah satu cabang filsafat yang membicarakan problem watak yang sangat mendasar dari pada benda di belakang pengalaman yang langsung secara komprehensif[3].
MATERIALISME DIALEKTIS
            Orang yang diangap penting atau tokoh besar dari materialisme dialektik atau historIs ini adalah Karl Marx. Ia adalah seorang filosuf asal Jerman ( 1818 – 1883 ) sehingga aliran ini juga disebut Marxisme. Marx sendiri menolak ajaran Hegel, yang mana Hegel mencoba mencari yang mutlak dari yang tidak mutlak. Yang mutlak itu roh ( jiwa ), tetapi roh itu menjelma pada alam dan dengan demikian ssadarlah aka dirinya. Roh ini ada dalam intinya idea, artinya : Berpikir. Dalam sejarah kemanusiaan sadarlah roh akanini akan dirinya. Demikian kemanusiaan itu merupakan bagian dari idea yang mutlak, Tuhan sendiri. Idea yang berpikir itu adalah gerak , akan tetapi bukanlah gerak yang maju terus, akan tetapi gerak yang menimbulkan gerakan lain. Gerak ini mewujudkan thesis yang dengan sendirinya menimbulkan gerak yang bertentangan, antithesis. Adanya thesis dan antithesisnya itu menimbulkan syntesis dan ini merupakan thesis baru yang sendirinya memunculkan antithesisnya serta terjadinya syinthesis baru. Maka demikian ada proses idea. Proses inilah yang kemudian di sebut oleh Hegel dialektika.
            Marx lebih setuju dengan pendapat Feuerbach yang mengajarkan manusia haru di pandang sebagai gattung, sebagai mahluk alamiah. Oleh karena itu pemikiran spekulatif seperti yang dikatakan Hegel harus ditolak, sebab hanya apa yang nyatalah yang benar[4]. Materialisme Mark memang lebih mendalam dari materialisme yang dulu – dulu. Manusia itu, demikian kata marx, ditentukan oleh alam dan kodratnya, tetapi kodrat ini dipandang dari sudut kemasyarakatannya, bukannya dipandang dari segi individu. Adapun masyarakat hrus berkembang, dan perkembangan inilah yang disebut sejarah. Yang membuat masyarakat itu brkembang adalah kekuatan – kekuatan material untuk menghasilkan sesuatu. Jadi perkembangan masyarakat  itu tidak lain adalah bersumber dari perkembangan bahan. Yang nyata perkembangan itu terdorong rasa untuk hidup. Yang termasuk kerangka hidup diantaranya adalah makan, minum, dan pakaian.


DASAR-DASAR PANDANGAN DUNIA MATERIALISME
Dasar-dasar pandangan dunia Materialisme dapat didiilustrasikan sebagai berikut:
Pertama, bahwa wujud itu sama dengan materi dan material. Sesuatu itu dianggap ada apabila ia berupa materi yang memiliki bentuk dan meliputi tiga dimensi (panjang, lebar dan padat) atau meliputi tipologi materi sehingga ia disifati dengan kuantitas dan dapat dibagi. Atas dasar inilah penganut Materialisme mengingkari wujud Allah, karena wujud-Nya nonmateri dan metafisis.
Kedua, bahwa materi bersifat azali, abadi, tidak dicipta dan tidak membutuhkan sebab apapun, yang dalam Filsafat dinamakan wajibul wujud.
Ketiga, kita tidak mungkin mengatakan bahwa alam ini memiliki tujuan dan sebab akhir, karena tidak ada pelaku yang memiliki ilmu dan kehendak sehingga dapat dinis-bahkan suatu tujuan penciptaan kepadanya.
Keempat, sesungguhnya fenomena alam (baca: bukan materi utamanya) muncul akibat adanya perpindahan pada atom-atom materi, dan adanya interaksi antara satu dengan lainnya. Dari sini dapat dikatakan bahwa fenomena alam yang terdahulu berperan sebagai syarat dan sebab penyiap bagi fenomena-fenomena berikutnya. Dalam hal ini, kita pun dapat menerima kemungkinan yang paling jauh, bahwa fenomena alam terdahulu itu adalah sebagai sebab pelaku alami di antara hal-hal material. Misalnya, sebuah pohon dapat dianggap sebagai pelaku alami bagi munculnya buah-buahan. Sedang hal-hal yang bersifat fisikal dan kimiawi dapat disandarkan kepada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Namun, tidak ada satu pun fenomena yang butuh kepada pelaku dan pencipta Ilahi.
Di sini, dapat pula ditambahkan basis epistemologis sebagai dasar kelima. Dan bisa pula dianggap sebagai prolog bagi semua dasar-dasar lainnya, yaitu bahwa pengetahuan yang diperoleh berdasarkan empiris adalah satu-satunya pengetahuan yang dapat diakui keabsahannya, mengingat bahwa eksperimen indrawi hanya dapat membuktikan wujud materi dan hal-hal material, dan tidak bisa membuktikan wujud lainnya. Karenanya, kita tidak mungkin menerima wujud apa pun yang selain materi. Akan tetapi, pada pelajaran yang telah lalu telah jelas kerapuhan pandangan ini, dan kami rasa tidak perlu lagi mengulanginya. Untuk itu, kita akan membahas empat dasar saja.

KRITIK ATAS PANDANGAN DUNIA MATERIALISME
Kritik atas Dasar Pertama
Dasar ini merupakan yang terpenting dalam pandangan dunia Materialis, meski sekadar klaim tanpa argumen. Argumen apa pun tidak dapat digunakan untuk menafikan wujud metafisis, khususnya berdasarkan epistemologi materialistik yang berlandaskan pada indra dan persepsi. Karena eksperimen indrawi apa pun tidak akan dapat menjelaskan tentang sesuatu di luar lingkup materi dan material, baik penilaiannya yang positif maupun negatif. Asumsi maksimal -sesuai dengan logika materialis- yang dapat dinyatakan adalah bahwa wujud metafisis itu tidak dapat dibuktikan. Dengan demikian, paling tidak kita harus menerima asumsi kewujudannya, karena sesuatu yang tidak dapat dibuktikan kewujudannya tidak berarti bahwa sesuatu itu benar-benar tidak ada, sebagaimana ungkapan para filosof bahwa “Adamu al-wujdan la yadullu ala adami al-wujud” (tidak diketahui tidak berarti tiada).
Pada pembahasan sebelumnya telah kami jelaskan bahwa manusia dapat mengetahui berbagai persoalan nonmateri yang tidak memiliki kekhasan materi seperti ruh, seseorang dapat mengetahuinya dengan ilmu hudhuri (ilmu presentif). Bahkan argumen rasional pun telah banyak membuktikan berbagai wujud abstrak (mujarrad) dalam buku-buku filsafat. Bukti yang paling utama atas keberadaan abstrak ruh ialah adanya mimpi yang nyata, perbuatan-perbuatan para petapa, mukjizat-mukjizat para Nabi dan karamah para wali Allah.
Alhasil, untuk mengikis dasar-dasar Materialisme tersebut cukup dengan menggunakan dalil-dalil yang digunakan untuk menetapkan wujud Allah swt. dan kenonmaterian-Nya.
Kritik atas Dasar Kedua
Dasar ini berlandaskan pada keabadian dan keutuhan materi.  Kesimpulannya, materi itu bukan yang tercipta. Kritik atas dasar ini adalah:
 Pertama, kita tidak mungkin dapat menetapkan keabadian materi berdasarkan dalil-dalil ilmiah dan eksperimen. Karena, ruang-lingkup eksperimen sangatlah terbatas yang tidak mungkin dapat mencakup bidang ini. Bahkan eksperimen apapun tidak akan dapat membuktikan ketidakterbatasan alam semesta ini dari sisi ruang dan waktunya.
Kedua, bahwa keabadian materi tidak memestikan ketak-butuhannya kepada pencipta. Misalnya, asumsi adanya gerak mekanik yang bersifat abadi menuntut asumsi adanya potensi penggerak yang bersifat abadi pula, bukan malah mem-buktikan ketidakbutuhannya kepada potensi penggerak.
Di samping itu, pandangan bahwa materi itu tidak dicipta  berarti ia merupakan wajibul wujud. Pada pelajaran kedelapan telah kita buktikan kemustahilan materi sebagai wajibul wujud.
Kritik atas Dasar Ketiga
Dasar ketiga ini adalah pengingkaran atas tujuan alam semesta sebagai akibat dari mengingkari Sang Pencipta. Tentu, jika kita dapat membuktikan adanya Sang Pencipta yang bijak, dasar pemikiran ini akan gugur.
Di samping itu, ada sebuah pertanyaan yang perlu mereka jawab, yaitu bahwa setiap orang yang berakal –ketika menyaksikan hasil ciptaan manusia– mengetahui bahwa mereka mempunyai tujuan. Akan tetapi ketika ia menyaksikan tatanan alam semesta yang menakjubkan, dan memiliki hubungan yang serasi antara satu dengan yang lainnya, serta memberikan anugerah kenikmatan yang melimpah ruah yang tidak terhitung banyaknya, bagaimana mungkin ia meyakini bahwa alam tersebut tidak memiliki  tujuan?
Kritik atas Dasar Keempat
Dasar keempat bagi pandangan dunia Materialisme adalah membatasi sebab hanya pada hubungan materi pada feno-mena alam. Banyak sekali kritik yang dilontarkan atas dasar ini, di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, bahwa dasar dan pandangan ini melazimkan tidak ditemukannya realitas yang baru apapun di alam ini. Padahal, kita senantiasa saksikan munculnya fenomena-fenomena materi yang baru, khususnya pada alam manusia dan binatang. Paling utamanya adalah kehidupan, rasa, sensi-tifitas, indra, pikir, penciptaan dan kehendak. Kaum Materialis menganggap bahwa fenomena-fenomena ini merupakan ciri-ciri khas materi dan bukan sesuatu yang lain.
Ada beberapa catatan untuk menjawab pandangan di atas:
a. Bahwa keunikan yang meniscayakan materi dan material yang tidak mungkin berpisah darinya adalah imtidad (ekstensi) dan dapat dibagi. Ciri-ciri ini tidak ditemukan pada fenomena-fenomena yang telah kami sebutkan.
b. Tidak diragukan lagi bahwa fenomena-fenomena yang dinamakan “keunikan materi” tersebut tidak ditemukan pada materi yang tidak bernyawa. Dengan kata lain, materi tersebut sebelumnya tidak memiliki keunikan masa. Barulah kemudian keunikan masa ini diwujudkan padanya. Dengan demikian, fenomena-fenomena itu –yang dikenal dengan tipologi materi– butuh kepada pencipta yang telah mengadakannya di dalam materi. Pencipta inilah yang dinamakan ‘illat mujidah (sebab pengada).
Kedua, pandangan ini melazimkan Jabariyah (deter-minisme) atas munculnya seluruh fenomena alam, karena tidak ada peluang baginya untuk berikhtiar dan berkehendak akibat pengaruh dan reaksi  materi. Sedangkan menolak ikhtiar –di samping bertentangan dengan nurani dan realita– dapat melazimkan pengingkaran terhadap tanggung jawab, norma-norma moral dan nilai-nilai maknawi. Dan kita tahu betapa malapetaka yang akan menimpa atas kehidupan manusia akibat mengingkari tanggung jawab dan nilai-nilai akhlak tersebut.
Akhirnya, dengan memperhatikan bahwa materi itu tidak mungkin sebagai wajibul wujud –sebagaimana telah kami buktikan pada pembahasan yang telah lalu– maka ia (materi) harus memiliki sebab. Sebab tersebut mesti bukan berupa sebab natural dan penyiap. Karena, hubungan-hubungan tersebut tidak dapat dipahami kecuali di antara hal-hal material saja. Adapun totalitas materi itu sendiri tidak mungkin memiliki hubungan semacam itu dengan sebabnya. Atas dasar ini, sebab yang mengadakan materi adalah Sebab Pengada yang nonmateri
BAHAYA VIRUS MATERIALISME
Materialisme adalah faham hidup yang dianut banyak manusia sejak zaman dahulu kala sampai hari ini. Bahkan IBLIS adalah BAPAK MATERIALISME PERTAMA di alam semesta ini. Kebanggaannya dan klaimnya yang tidak didasari pengetahuan, bahwa api lebih baik dari tanah adalah bukti bawah Iblis adalah penganut paham materialisme pertama. Kemudian diteruskan oleh anak cucu Adam yang tergoda dan tertipu oleh Iblis. Tidak ada perbedaan mendasar antara materialisme di zaman prasejarah maupun di zaman moderen sekarang ini. Secara umum, materialisme terbagi kepada tiga kategori:
  • Materialisme yang berkedok ilmu pengetahuan seperti yang dikembangkan kaum evolusionis. Pemikiran seperti ini bermuara dari falsafah materialisme yang dikembangkan Barat dari pemikiran dan falsafah Yunani Kuno. Kaum materialis yang berkedok ilmu pengetahuan ini sesungguhnya menafikan keberadaan Tuhan Pencipta alam semesta. Modelnya yang klasik di zaman moderen adalah Charles Darwin dan kawan-kawannya dengan teori evolusinya yang miskin argumentasi. Ironisnya, teori evolusi telah menjadi landasan berfikir peradaban Barat moderen dan juga Dunia Islam yang terpengaruh oleh peradaban Barat tersebut.
    Teori yang dikembangkan kaum evolusionis-materialis ini telah melahirkan generasi ateis di berbagai belahan dunia, tak terkecuali di Dunia Islam. Namun demikian, teori yang sempat dibanggakan oleh berbagai kalangan ilmuwan dunia sekitar satu setengah abad ini secara ilmiah telah kandas sejak awal abad 20 karena nyata-nyata bertentangan dengan berbagai penemuan ilmiah yang tak terbantahkan seperti teori Big Bang, penemuan sisa-sisa radioaktif oleh ilmuwan NASA tahun 1988 dan berbagai penemuan ilmiah lainnya dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan moderen seperti embriologi, astronomi dan sebagainya. Semua penemuan tersebut dengan jelas membuktikan adanya Zat Pencipta alam semesta yakni Allah Ta’ala. Kendati demikian, pengaruh paham materialisme yang berkedok ilmu pengetahuan tersebut masih kuat dalam kehidupan masnusia moderen karena telah menjadi kultur/budaya.
  • Materialisme yang berbasis sosial ekonomi. Faham materialisme ini boleh dikatakan sebagai saudara kembar faham materialisme yang berkedok ilmu pengetahuan. Kendati materialisme berbasis sosial ekonomi ini tidak sevulgar jenis yang pertama dalam menolak dan menafikan eksistensi Tuhan Pencipta, namun implikasinya dalam kehidupan sama saja, yakni penolakan atas konsep Tuhan Pencipta secara total atau setengah-setengah dan pada waktu yang bersamaan terjebak mempertuhankan benda dan apa saja yang berbentuk materi khususnya harta benda pangkat dan lain sebagainya.
  • Materialisme yang berbasis tanah dan air atau apa yang disebut dengan pamah nasionalisme. Faham materialisme jenis ini sesungguhnya sudah terkikis dari atas bumi, khususnya di negeri-negeri Islam sejak Rasululllah Saw. mendeklarasikan pertama kali Negara Madinah, sebuah negara moderen yang didasari falsafah, iodelogi Tauhid yang menjadi dasar konsep kenegaraan dan pemerintahan moderen. Di antaranya ialah standarisasi loyalitas terhadap tanah tempat kelahiran manusai bukan berdasarkan keturunan, warna kulit, bahasa, suku, tempat dan tanggal lahir dan sebagainya, melainkan berdasarkan komitment idelogi terhadap Tuhan Pencipta, serta tegaknya nilai-nilai kebenaran dan keadilan di tengah masyarakat, kendati mereka berbeda suku, warna kulit, bahasa, dan bahkan berbeda agama sekalipun.
Kondisi seperti itu tegak beridri sampai tahun 1924 atau sekitar tahun 1344 hijriyah. Setelah Khilafah Islamiyah Utsmaniah tumbang dan hancur di tangan Mustafa Kemal Aturk, faham materialisme berbasis nasionlisme mulai eksis di dunia Islam sehingga dunia Islam yang tadinya satu, tercabik-cabik menjadi lebih dari 50 negara dan pemerintahan, bahakan ada yan penduduk aslinya hanya sekitar 500.000 jiwa saja seperti Brunai, Qatar dan sebaginya. Dunia Islampun menjadi lemah dan menjadi santapan empuk atau boneka kaum kolonialis Eropa dan Amerika.
Fakta menunjukkan, bahwa ketiga faham materialisme tersebut menjadi fakor utama kehancuran dan kekacauan tatanan hidup manusia. Berbagai fasilitas dunia yang seharusnya berfungsi sebagai sarana kehidupan telah berubah menjadi tujuan utama bagi kehidupan. Tidak jarang pula fasilitas kehidupan dunia berubah menjadi tujuan dan dicintai melebihi cinta kepada Tuhan Pencipta, bahkan ada pula manusia yang menyembahnya. Akibatnya, berbagai nilai dan aturan yang menata kehidupan manusia dengan mudah dilanggar. Pola hidup menjadi tidak terkendali sehingga menghalalkan segala cara dan tanpa mempertimbangkan kerusakan yang timbul dalam masyarakat dan lingkungan.
Sebagai akibat lain dari materialisme adalah, manusia lupa akan Perjalanan Wisata Abadinya (Rihlatul Khulud) yang amat panjang, bermula dari sebelum mereka dilahirkan ke dunia dan berakhir ketika mereka kembali kepada Tuhan Pencipta di sebuah negeri abadi yang bernama Akhirat.
Negeri abadi tersebut dirancang Tuhan Pencipta sebagai kompensasi dari apa yang mereka lakukan ketika hidup di dunia; jika baik akan mendapatkan kebaikan dan akan dibalas dengan Syurga, sedangkan keburukan akan mendapatkan balasan yang buruk pula dengan balasannya Neraka. Nna’uzu billaah min dzaalik...
Materialisme juga mengajarkan semua standar kesuksesan hidup di dunia selalu diukur dengan materi. Padahal dalam kenyataan hidup ini, tidak sedikit yang memiliki materi berlimpah, malah hidupanya tersiksa dan menderita. Kesuksesan hanya sebatas dalam pencapaian keduniaan berupa pangkat, kedudukan, status sosial dan harta. Lupa, bahwa di atas segala kesuksesan adalah kesuksesan di Akhirat kelak.
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُون (سورة الروم)
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) Akhirat adalah lalai”. (Q.S. Ar-Rum (30) : 7)
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ (185) ( سورة آل عمران)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Q.S. Ali Imran (3) : 185)




















KESIMPULAN
Kata materialisme terdiri dari kata materi dan isme. Dalam kamus besar bahasa indonesia materi adalah bahan;benda;segala sesuatu yang tampak.
Masih dari kamus yang sama disebutkan bahwa materialis adalah pengikut paham (ajaran) materialisme atau juga orang yang mementingkan kebendaan(harta,uang,dsb).
Materialisme adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam kebendaan semata-mata dengan mengesampingkan segala sesuatu yang mengatasi alam indra. Ini sesuai dengan kaidah dalam bahasa indonesia. Jika ada kata benda berhubungan dengan kata isme maka artinya adalah paham atau aliran.
Materialis adalah paham yang hanya bersandar pada materi(ma’dah) yang tidak meyakini apa yang ada di balik alam ghaib. Tidak meyakini alam ghaib berarti tidak meyakini adanya kekuatan yang menguasai alam semesta ini. Dan hal ini secara otomatis menafikan adanya tuhan sebagai pencipta alam semesta. Karena menurut paham ini, alam beserta isinya berasal dari satu sumber yaitu materi(ma’dah).
Pemikiran ini sama halnya seperti atheisme dalam bentuk dan substansinya yang tidak mengakui adanya tuhan secara mutlaq. Para penganut paham ini menolak agama sebagai hukum kehidupan manusia. Mereka lebih mengedepankan akal sebagai sumber segala hukum. Pada akhirnya prinsip ini melahirkan suatu ideologi bahwa hukum hanyalah apa yang bisa diterima oleh akal. Padahal kita ketahui bahwa hasil pemikiran manusia bersifat relatif. Dalam artian bisa salah dan benar.
Atheisme dan materialis memiliki ikatan yang sangat erat yang tidak bisa dipisahkan antara keduanya. Yaitu tidak mengakui adanya tuhan. Karena mereka mengingkari alam ghaib.
KARAKTERISTIK DAN CIRI-CIRI PAHAM MATERIALIS
Secara global,ciri-ciri paham ini bisa kita klarifikasikan. Setidaknya ada 5 dasar ideologi yang dijadikan dasar keyakinan paham ini:
· Segala yang ada(wujud) berasal dari satu sumber yaitu materi(ma’dah).
· Tidak meyakini adanya alam ghaib
· Menjadikan panca-indra sebagai satu-satunya alat mencapai ilmu
· Memposisikan ilmu sebagai pengganti agama dalam peletakkan hukum
· Menjadikan kecondongan dan tabiat manusia sebagai akhlaq.



DAFTAR PUSTAKA
Bertens. 1975. Ringkasan Sejarah Filsafat. Kanisius. Yogyakarta
Partanto Pius A & Al Barry. M. Dahlan. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Arkola.  Surabaya
Sudarsono. 2008. Filsafat Suatu Pengantar. Rineka Cipta. Jakarta
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.2008
















Catatan
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………


[1] Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

[2]  Prof.K. Bertens. Ringkasan Sejarah Filsafat. h : 76
[3] Pius A Partanto & M. Dahlan Al Barry.  Kamus ilmiah Populer, h : 458
[4] Des. Sudarsono, S.H.M. S.i. Ilmu filsafat Suatu Pengantar. H :334